Buat Apa Kita Hidup Kalau Tidak Bahagia?

Belum lama ini saya menonton video Guru Gembul yang tiba-tiba muncul di homepage YouTube saya. Videonya cukup menarik perhatian saya. Dalam video itu, Guru Gembul mempertanyakan sesuatu: jika hidup tidak bahagia, untuk apa kita hidup? Jika hidup tidak bahagia, kenapa bunuh diri itu dilarang? Jika hidup tidak bahagia, kenapa kita tidak bunuh diri saja?

Kurang lebih itu poin yang saya tangkap. Meskipun dalam video tersebut memang tidak ada jawabannya. Dia hanya seperti seorang filsuf yang mempertanyakan apa yang perlu dipertanyakan.

Sekilas, video itu cukup menarik perhatian saya. Karena kurang lebih saya cukup setuju. Buat apa hidup kalau begini? Buat apa hidup kalau begitu? Buat apa hidup kalau kita tidak bisa ini atau itu?

Merasa Khawatir Karena Setuju

Saya termasuk orang yang merasa, kalau dulu bisa memilih untuk tidak dilahirkan, ya itu oke saja. Dan saya yakin, dari pengalaman saya berselancar di internet, saya tidak berpikir seperti itu sendirian. Banyak orang yang juga merasa: buat apa saya dilahirkan di hidup ini? Kayanya saya tidak pernah minta untuk lahir di bumi ini.

Tapi setelah selesai menonton, ada perasaan yang mengganjal. “Kenapa saya bisa setuju sama pendapat itu, ya”? Akhirnya saya renungi lagi, saya coba cari tahu lagi. Kenapa kalau saya setuju, saya tidak bunuh diri saja? Kenapa banyak orang yang tidak bahagia tapi tetap hidup?

Hal ini membuat saya berpikir: apakah memang bahagia menjadi tujuan untuk hidup?

Mari kita coba pertanyakan lagi, kenapa kita hidup? Apakah memang tujuan kita hidup adalah untuk bahagia? Ternyata tidak ada satu pun yang saya tahu bilang bahwa kita diciptakan untuk hidup di bumi ini HANYA untuk bahagia.

Beberapa Alasan Kita Diciptakan

Pertama, kita tidak ditakdirkan untuk hidup di bumi. Kalau kita kembali kepada penciptaan manusia yang paling pertama yaitu Adam, Adam bukanlah makhluk yang ditakdirkan untuk tinggal di bumi. Adam diciptakan untuk tinggal dan menetap di surga.

Adam yang patuh kepada Allah tinggal di surga. Adam kemudian melakukan ketidakpatuhan lalu dihukum untuk diusir sementara dengan menetap di bumi yang berlanjut ke anak cucunya yaitu kita.

Jadi poinnya: kita memang tidak dilahirkan untuk hidup di dunia. Kita dilahirkan untuk hidup di surga. Dan di surga tidak ada kata tidak bahagia.

Kedua, kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Ini adalah salah satu pernyataan yang selalu saya jadikan prinsip. Karena bukan kali ini saja saya mendapati pertanyaan tentang untuk apa kita hidup. Dan jawabannya sudah ada sejak 1.400 tahun yang lalu, dari Dzat yang menciptakan kita, Dia memberitahu alasan mengapa Dia menciptakan kita.

Dijelaskan dengan sangat jelas bahwa kita diciptakan di dunia untuk menyembah Allah. Bukan untuk menjalani hidup dengan bahagia.

Ketiga, kita hidup untuk mengurus bumi. Allah juga menceritakan tentang manusia sebagai khalifah di bumi. Artinya kita memang hidup dan tinggal di bumi, kita memang menjadi pemimpin di bumi, kita memang mengatur dan mengurus bumi. Yang sayangnya kita juga yang sering merusaknya.

Tapi poinnya di sini: kita diciptakan memang untuk tinggal di bumi dan memimpin bumi ini. Bukan untuk sekadar bersenang-senang di dalamnya.

Dari penjelasan di atas, mungkin Anda bisa menangkap penelaahan saya: kita memang tidak dipastikan untuk berbahagia di bumi. Kita dipastikan untuk hidup, dan menjalani hidup untuk bisa berbahagia setelah kita mati.

Tapi apakah kita tidak boleh bahagia? Tentu boleh. Apakah kita tidak boleh melakukan sesuatu yang membuat kita bahagia? Tentu saja boleh.

Yang perlu ditekankan, untuk menjawab pertanyaan Guru Gembul tadi, adalah bahwa kita tidak dilahirkan hanya untuk berbahagia. Kita dilahirkan dengan misi yang jauh lebih mulia dari sekadar berbahagia: yaitu menyembah Allah, Tuhan yang kita cintai.

Dan saya yakin, tidak ada satu pun orang yang mencintai Tuhannya lalu dia tidak bahagia. Siapa pun yang dekat hatinya dengan Allah, dia tidak akan pernah mempertanyakan kebahagiaan. Karena di situlah letak kebahagiaan yang paling utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel lainnya