Selamat datang! Saya termasuk orang yang terbiasa memikirkan banyak hal sendirian. Semakin ke sini, semakin sering saya merasa kepala saya penuh, tapi tidak tahu harus menaruh cerita ke mana. Karena itu, rasanya pengalaman ke psikolog ini penting untuk saya bagikan.
Keputusan untuk datang ke psikolog tidak muncul secara tiba-tiba. Setelah membaca banyak pengalaman orang lain dan mendengar anjuran dari beberapa public figure yang saya ikuti, ada satu hal yang akhirnya saya sadari. Saya tidak memiliki lingkar pertemanan yang cukup luas untuk benar-benar membicarakan isi kepala saya.
Jika punya banyak teman pun, menceritakan masalah ke teman juga tidak menjadi pilihan yang tepat, karena tidak semua orang punya pemahaman soal kepribadian dan kondisi psikologis. Belum lagi kalau malah berakhir menjadi ajang adu nasib “yah, elu mah mending, lah gua….”.
Hal yang Saya Temukan dari Pengalaman ke Psikolog Ini…

Masuk ke ruang psikolog untuk pertama kalinya terasa dag dig dug, khususnya karena memang saya tidak terbiasa untuk bertemu orang baru.
Saya datang dengan harapan mendapatkan jawaban atas masalah yang saya hadapi. Yang saya dapatkan justru cara baru untuk melihat apa yang sebenarnya sedang saya alami.
Hal paling menarik dari sesi tersebut adalah saya tidak hanya diberi solusi teknis. Saya justru dibantu melihat benang merah dari pola pikir dan respons saya selama ini.
Dari situ, saya mulai memahami bahwa banyak masalah tidak berdiri sendiri. Ada pola yang berulang, dan di sanalah letak hal mendasar yang perlu saya pahami.
Setelah sesi berakhir, masalah saya tidak langsung hilang tentunya. Justru, saya sendiri yang harus berbuat untuk menyelesaikan masalah yang sedang saya hadapi. Tapi, dari pengalaman ini, cara saya memandang diri sendiri terasa sedikit memiliki pencerahan.
Hal yang mungkin bisa saya bagikan di artikel ini adalah, setiap ketakutan yang membuat saya tidak berani bertindak tegas dan bahkan cenderung menjadi seorang people pleaser, semua berakar dari saya memiliki kadar self confident yang sangat lemah.
Memang, memahami diri sendiri adalah proses jangka panjang. Dan memiliki ruang aman untuk berpikir bersama orang yang tepat ternyata sangat membantu.
Ada satu kutipan dari Repose Theraphy yang terasa relevan dengan pengalaman ini: “Going to therapy doesn’t mean something is wrong with you, it means you want to understand yourself better”
Karena itu, pergi ke psikolog tidak perlu menunggu sampai seseorang mengalami gangguan jiwa. Psikolog mungkin bukan tempat untuk menyelesaikan masalah, tapi bisa menjadi sarana untuk memahami diri, pola pikir, dan bagaimana kita secara fundamental dapat memahami masalah tersebut.
Jika belakangan ini kamu merasa terlalu sering menyimpulkan semuanya sendirian, mungkin ada baiknya berhenti sejenak. Bukan untuk memberi label pada diri sendiri, tapi untuk memberi diri sendiri kesempatan dipahami dengan lebih utuh. Sampai jumpa!

Leave a Reply