Selamat datang! Waktu SMA, saya cukup sering naik angkot ke sekolah. Hampir setiap hari saya berangkat dan pulang sekolah naik angkot, kecuali kalau lagi kehabisan uang baru pulangnya jalan kaki sekitar 8 Km. Dari sini, saya teringat akan filosofi angkot yang erat kaitannya dengan perjalanan hidup.
Angkot di setiap kota memiliki kode dan tujuan, saya biasanya naik angkot jurusan Ciledug – Kebayoran Lama dengan kode C01. Namun, ada teman saya yang harus ke sekolah naik angkot jurusan Ciledug – Cikokol yang lebih jauh perjalannya.
Seiring waktu, saya menyadari satu hal sederhana. Tidak semua orang memulai perjalanan dari titik yang sama.
Kalau tujuan saya adalah ke Ciledug dan saya berangkat dari Kebayoran Lama, rutenya relatif sederhana. Cukup naik satu angkot, duduk sekitar setengah jam, lalu sampai.
Namun tidak semua orang punya rute sesingkat itu. Ada yang harus naik beberapa angkot dari Pluit misalnya, harus naik angkot ke jurusan Tanah Abang dulu, lanjut ke Meruya, baru akhirnya menuju ke Ciledug.
Ada juga yang titik awalnya jauh sekali. Dari Medan, misalnya, seseorang harus naik pesawat terlebih dulu, lalu turun di bandara, lanjut angkutan darat, dan masih perlu beberapa kali berpindah.
Filosofi Angkot Sebagai Cara Memahami Hidup
Dari mana seseorang berangkat dan bagaimana kondisi finansialnya akan sangat memengaruhi kendaraan yang bisa dipilih. Berbedanya kendaraan yang dipilih, membuat waktu tempuh untuk mencapai tujuan juga berbeda, bisa lebih cepat, bisa lebih lambat.
Angkot, bus, atau pesawat pada dasarnya hanya alat. Ia bukan tujuan akhir, melainkan sarana agar seseorang bisa bergerak mendekat ke arah yang diinginkan. Karena itu, mengetahui tujuan menjadi hal yang penting. Jangan sampai kita ingin ke Ciledug, tapi justru naik angkot yang tujuannya Bogor.
Yang penting bukan seberapa lama kita duduk di dalam angkot. Yang penting apakah angkot itu masih membawa kita ke arah yang sama. Kadang kondisi finansial tidak memungkinkan memilih jalan tercepat. Bus menjadi pilihan, meskipun waktunya jauh lebih lama, bahkan bisa berhari-hari.
Tidak apa-apa. Lambat tidak selalu berarti salah.
Setiap orang berjalan dengan rute-nya masing-masing. Ada yang sampai lebih dulu, ada yang harus menempuh perjalanan panjang dengan banyak pemberhentian.
Yang perlu diwaspadai bukan lamanya perjalanan. Tapi ketika seseorang terlalu lama bertahan di angkot yang salah, tanpa sadar bahwa arah tujuannya sudah melenceng.
Selama kita masih sadar ke mana ingin pergi, perjalanan itu tetap sah. Tidak perlu merasa rendah hanya karena rutenya lebih panjang.
Pada akhirnya, filosofi angkot mengajarkan satu hal penting. Hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang tetap sadar arah di tengah perjalanan yang tidak selalu mulus.
Sampai jumpa!

Leave a Reply