Selamat datang! Di penghujung tahun 2025 ini saya akan menuliskan review mengenai film 1 Kakak 7 Ponakan yang tayang di awal tahun 2025 dan sampai akhir Desember, saya masih belum menemukan film yang lebih menyentuh dari film ini.
Saya baru mulai rutin menonton film di bioskop saat masa kuliah. Waktu itu, saya cenderung memilih film-film Sci-fi dan superhero seperti Star Wars atau Avengers. Film drama tidak pernah benar-benar menarik perhatian saya. Di kepala saya saat itu, drama bisa ditonton di rumah tanpa perlu datang ke bioskop.
Namun ketika kantor tempat saya bekerja menjalin kerja sama dengan Ringgo Agus Rahman. Kebetulan, di waktu yang sama, ia sedang membintangi sebuah film, jadi saya memutuskan untuk menontonnya.
1 Kakak 7 Ponakan, Film Sedih yang Menjual Kehangatan
Film 1 Kakak 7 Ponakan bercerita tentang Moko, seorang paman yang maunya dipanggil kakak yang mengambil tanggung jawab untuk menghidupi keponakan-keponakannya, bahkan sekaligus kakak dan kakak iparnya.
Cerita film ini bergerak sangat pelan. Tidak terburu-buru, dan tidak berusaha menarik perhatian dengan cara berlebihan juga tidak berusaha mendramatisir setiap adegan.
Kita dibawa untuk mengikuti kegiatan si peran utama, Moko, mulai dari ia sidang skripsi, kehilangan kakak pertama, mencari kerja, hingga perlahan-lahan menjadi orang tua bagi banyak orang dalam satu rumah.
Dalam dinamika perjalanan hidup tersebut, Moko harus merelakan banyak hal mulai dari cita-citanya untuk lanjut S2, terpaksa memutuskan hubungan dengan pacarnya, hingga sulit mencari kerja sambil menghidupi keponakan-keponakannya.
Setiap drama yang harusnya menjadi adegan-adegan yang menyedihkan bagi Moko, justru malah terasa haru dengan penuh kehangantan karena keluarga yang diperjuangkan Moko juga memberikan rasa sayang yang berbalik sama kepadanya.
Film ini menjadi satu-satunya film yang saya tonton sampai dua kali di bioskop. Dan pada keduanya selalu saja saya meneteskan air mata saat menontonnya. Bahkan, setelah film tersebut tidak lagi tayang, saya masih saja mencari ulang potongan-potongan ceritanya di tempat lain.
Saya menonton beberapa ulasan dan cuplikan film di YouTube. Tentunya tidak bisa untuk menonton ulang filmnya lagi, tapi cuplikan dari konten review itu cukup untuk saya mengingat kembali suasana film yang begitu hangat.

Tidak Apa untuk Berkorban yang Kita Sayang, Tidak Perlu Ragu untuk Berbagi Beban
Saya paham juga bahwa film ini bisa saja tidak cocok untuk semua orang. Ada yang merasa alurnya berjalan terlalu pelan. Ada juga yang tidak merasa dekat dengan pilihan dan keputusan Moko. Itu wajar.
Tidak semua orang berada di posisi yang sama ketika berhadapan dengan tanggung jawab. Tidak semua orang menjalani hidup dengan beban yang serupa. Sehingga tidak semua orang bisa merasakan empati yang sama atas apa yang terjadi di orang lain.
Dalam hidup, ada kalanya seseorang memilih untuk bertanggung jawab terhadap keluarga. Kadang keputusan itu diambil dengan penuh kesadaran, kadang datang karena keadaan.
Film ini membuat saya kembali melihat hubungan antara tanggung jawab dan kasih sayang. Keduanya sering berjalan beriringan, meskipun tidak selalu mudah dijalani. Cerita ini memang berbicara tentang keluarga. Namun maknanya tidak berhenti di situ.
Ia bisa tentang pasangan. Bisa juga tentang teman. Tentang orang-orang yang kita pilih untuk tetap ada dalam hidup kita.
Juga, jangan ragu untuk menerima bantuan karena berjuang akan lebih mudah dilakukan bersama-sama.
Oiya, film ini sudah bisa disaksikan di Netflix lho, Sampai jumpa dengan Kak Moko di sana!

Leave a Reply